Triwidadi Info (10/03). Masyarakat Pedukuhan Trucuk, Kalurahan Triwidadi, menggelar tradisi Genduri Selikuran pada Selasa, 10 Maret 2026. Kegiatan yang dilaksanakan pada malam hari tersebut diikuti oleh warga masyarakat sebagai bentuk pelestarian tradisi budaya Jawa sekaligus momentum untuk meningkatkan ibadah di bulan suci Ramadhan.
Genduri Selikuran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada malam ke-21 bulan Ramadhan. Tradisi ini memiliki makna yang mendalam, di mana kata “seli” berarti sela atau celah, sedangkan “kuran” berarti kurang atau belum selesai. Secara makna, Genduri Selikuran diartikan sebagai malam yang belum selesai, atau malam yang masih memiliki celah dan kesempatan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.
Dalam pelaksanaannya, warga berkumpul untuk menggelar doa bersama serta kenduri sebagai ungkapan rasa syukur. Setiap warga membawa hidangan atau makanan yang kemudian didoakan bersama sebelum dinikmati secara bersama-sama. Suasana kebersamaan dan kekhidmatan sangat terasa, mencerminkan nilai gotong royong serta kekeluargaan yang kuat di tengah masyarakat.
Selain sebagai tradisi turun-temurun, Genduri Selikuran juga menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk semakin meningkatkan amal ibadah, terutama pada malam-malam terakhir Ramadhan. Malam ke-21 Ramadhan diyakini sebagai salah satu malam yang mustajab untuk berdoa, sehingga masyarakat memanfaatkannya dengan memperbanyak doa, dzikir, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Pedukuhan Trucuk berharap tradisi Genduri Selikuran dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal yang sarat makna spiritual dan kebersamaan. Tradisi tersebut sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga serta memperkuat nilai religius dalam kehidupan bermasyarakat.



















